Pengelolaan Usaha Minimarket dan Swalayan

Dalam mengelola sebuah minimarket dan swalayan perlu diperhatikan 4 hal pokok yang saling berkaitan satu sama lain, yaitu keuangan, operasional, pembelian dan sdm

Perlu adanya manajemen yang baik terhadap 4 hal di atas. Berikut sedikit gambaran mengenai 4 hal tersebut:

1. Manajemen Keuangan

Manajemen Keuangan dalam usaha minimarket dan swalayan meliputi, bagaimana cara pencatatan administrasi kas yang baik, laporan laba rugi, laporan neraca, laporan arus kas dan perencanaan kas/ cash planning yang baik

2. Manajemen Operasional

Manajemen Operasional meliputi kontrol keluar masuk barang, kontrol gudang, kontrol persediaan barang, cara display barang yang baik dan benar, kontrol pengawasan minimarket, kontrol pelayanan konsumen, promosi dan kontrol keamanan lingkungan minimarket dan swalayan

3. Manajemen Pembelian

Manajemen Pembelian meliputi, cara estimasi order yang baik, cara penentuan margin barang dagangan yang tepat, negosiasi supplier, kontrol kualitas barang dagangan dan kontrol retur barang

4. Manajemen Sumber Daya Manusia

Manajemen Sumber Daya Manusia meliputi, cara membuat struktur organisasi minimarket dan swalayan, cara membuat job deskripsi, cara rekrutment dan penempatan karyawan, evaluasi karyawan reward & punishment, training dan pelatihan, peraturan perusahaan dan cara pembuatan kontrak kerja karyawan

Perincian di atas hanya sebagian dari beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bagi para pelaku usaha minimarket dan swalayan. Untuk lebih detailnya dapat dilihat di http://manajemenminimarketswalayan.com/

Dipublikasi di Berita, Uncategorized | Tag , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Manajemen Minimarket dan Swalayan

Usaha minimarket dan swalayan termasuk usaha yang tumbuh dengan cepat di Indonesia. Usaha ini merupakan salah satu peluang usaha yang sangat potensial untuk dikembangkan. Perlunya pengetahuan yang cukup mengenai manajemen  sebuah usaha minimarket adalah hal yang wajib bagi yang akan mendirikan sebuah minimarket ataupun bagi pengusaha yang saat ini sudah mempunyai toko dan akan mengupgradenya menjadi minimarket.

Berikut akan kami uraikan persiapan-persiapan yang dilakukan sebelum membuka usaha minimarket dan swalayan serta cara-cara pengelolaannya. Akan dibahas secara terperinci satu persatu sehingga akan mempermudah bagi yang masih awam sekalipun.

Sebelum mendirikan usaha minimarket perlu adanya analisa kelayakan usaha. Analisa kelayakan usaha terdiri dari 10 point penting. Untuk mengetahui lebih detailnya bisa dilihat di www.manajemenminimarketswalayan.com

Dipublikasi di Berita, Uncategorized | Tag , , , , , , | Tinggalkan komentar

Definisi Pasar Swalayan

Supermarket atau pasar swalayan adalah sebuah toko yang menjual segala kebutuhan sehari-hari. Kata yang secara harfiah yang diambil dari bahasa Inggris ini artinya adalah pasar yang besar. Barang barang yang dijual di supermarket biasanya adalah barang barang kebutuhan sehari hari. Seperti bahan makanan, minuman, dan barang kebutuhan seperti tissue dan lain sebagainya.

Jenis Pasar Swalayan

Selain supermarket dikenal pula minimarket, midimarket, dan hypermarket.

Perbedaan istilah minimarket, supermarket dan hypermarket adalah di format, ukuran dan fasilitas yang diberikan. Contohnya
– minimarket berukuran kecil (100m2 s/d 999m2)
– supermarket berukuran sedang (1.000m2 s/d 4.999m2)
– hypermarket berukuran besar (5.000m2 ke atas)
– grosir berukuran besar (5.000m2 ke atas)
Pasar Swalayan atau toko serba ada dibagi dalam jenis:

Minimarket

Sebuah minimarket sebenarnya adalah semacam “toko kelontong” atau yang menjual segala macam barang dan makanan, namun tidak selengkap dan sebesar sebuah supermarket. Berbeda dengan toko kelontong, minimarket menerapkan sistem swalayan, dimana pembeli mengambil sendiri barang yang ia butuhkan dari rak-rak dagangan dan membayarnya dikasir. Sistim ini juga membantu agar pembeli tidak berhutang.

Sebuah minimarket jam bukanya juga lain dari sebuah supermarket, minimarket circle K jam bukanya hingga 24 jam.

Minimarket yang ada di Indonesia adalah Alfamart, Indomaret, Ceriamart, Starmart, Circle K, dan lain-lain.

Midimarket

Ukuran lebih besar sedikit dari minimarket adalah midimarket, di sini sudah dijual daging dan buah2an. Buka bisa 24 jam atau hanya sampai jam 24 saja. Sebagai contoh adalah Alfa Midi, dan sebagian dari jaringan Giant yang dulunya bernama Hero.

Supermarket

Kalau Supermarket semua barang ada, dari kelontong, sepeda, TV dan camera, furnitur, baju, ikan dan daging, buah2an, minuman, pokoknya serba ada kebutuhan sehari-hari. Contohnya Giant Supermarket, Carrefour Express, Sinar Supermarket[Jawa Tengah], Macan Yaohan[Sumatera Utara], Foodmart, Foodmart Gourmet, Super Indo, dan lain-lain

Hypermarket

Di sini hypermarket adalah supermarket yang besar termasuk lahan parkirnya. Sebagai contoh Carrefour, Hypermart, Giant Hypermarket, dan lain-lain.

Grosir

Disini semua barang tersedia sehingga ada bongkar muat di dalam pusat grosir. Contoh Indo Grosir, Makro [Lotte Mart], dan lain-lain

Dipublikasi di Berita | Tag , , | Tinggalkan komentar

6 Cara Minimarket dan Swalayan Membuat Anda Belanja Berlebihan

 

Bagi anda wanita karir, tentu saja informasi “6 Cara Minimarket dan Swalayan Membuat Anda Belanja Berlebihan” akan sangat penting. Info 6 Cara Supermarket Membuat Anda Belanja Berlebihan ini akan membantu anda untuk lebih maju lagi dalam berkarir. Saya doakan semoga karir anda semakin maju.

Judulnya belanja bulanan, tetapi ketika Anda keluar dari Minimarket dan Swalayan, trolley Anda ternyata dipenuhi barang-barang yang tak masuk daftar belanja tersebut. Pemborosan ini terjadi setiap bulan, tetapi Anda tak juga kuasa menghentikannya.

Perlu Anda ketahui, semua supermarket tentu memiliki store designer yang akan menata letak barang-barang sedemikian rupa sehingga menggiring Anda ke tempat-tempat yang menyimpan produk-produk menarik. Belum lagi berbagai promosi harga barang yang memengaruhi Anda untuk membeli barang di luar kebutuhan. Untuk menghindari pemborosan, Anda harus tahu bagaimana mereka mengecoh Anda selama ini.

1. Area pintu masuk dan kasir
Hati-hati dengan jebakan di area pintu masuk atau di kasir. Minimarket dan Swalayan biasanya meletakkan berbagai produk dengan cara yang menggoda iman seorang impulse buyer seperti Anda. Produk-produk, seperti majalah, CD, DVD, snacks, dan berbagai pernak-pernik lain, mungkin tak Anda perlukan, tetapi akan sulit Anda hindari, demikian menurut Kit Yarrow, psikolog dan profesor marketing di Golden Gate University di San Francisco.

Anda mungkin akan mencoba bergegas meninggalkan area tersebut agar tidak tergoda. Namun, Anda bisa juga sengaja berlama-lama di tempat tersebut. Jika Anda berhenti sekarang, Anda cenderung kurang membeli secara impulsif belakangan, ujar Art Markman, profesor ilmu kognitif di University of Texas di Austin.

2. Bahan makanan
Para ahli meyakini bahwa buah dan sayur-sayuran diletakkan di bagian depan supermarket karena membeli makanan yang sehat membuat Anda tidak begitu merasa bersalah. Namun, Paco Underhill, penulis Why We Buy, mengungkapkan alasan yang lebih jelas: Produk bahan makanan memiliki margin keuntungan yang tertinggi dan Anda akan cenderung segera ingin membelinya.

Agar tidak tergoda berbelanja terlalu banyak bahan makanan, lakukan pembelanjaan di area ini belakangan. Selain itu, bahan makanan juga tidak cacat karena tertindih barang-barang lainnya.

3. Penawaran khusus
Terlalu banyak penjualan bisa mendorong lebih banyak pembelian. Berbagai penawaran khusus, seperti beli mi instan lima dapat bonus satu atau beli sampo jenis tertentu bisa dapat sampo jenis lain ukuran kecil bisa mengganggu kemampuan kita menalar. Menurut Yarrow, penawaran semacam itu akan membuat kita tak dapat mempertimbangkan nilai yang sesungguhnya.

Untuk itu, pikirkan nilai benda tersebut yang sebenarnya dan apakah Anda memang membutuhkannya. Jika hal tersebut hanyalah bahasa marketing, tinggalkan saja.

4. Produk-produk tersembunyi
Supermarket biasanya meletakkan barang-barang yang paling laku di lorong bagian tengah. Dengan demikian, Anda harus melewati banyak produk lain sebelum mendapatkan apa yang Anda perlukan. Penelitian menunjukkan bahwa orang membeli apa yang ada di hadapannya, kata pakar ilmu ritel Herb Sorensen, yang juga penulis buku Inside the Mind of the Shopper.

Jika Anda melewati lorong-lorong yang menjebak ini, tetaplah berjalan. Jika barang yang ditawarkan memang tak ada dalam daftar belanjaan Anda, lewatkan saja. Kalau Anda masih menginginkannya sebelum keluar dari supermarket, kembali dan ambillah, tetapi Anda mungkin akan mendapati bahwa barang tersebut tak layak dibeli.

5. Produk private label
Produk-produk yang diberi merek sesuai tempat di mana Anda membelinya, misalnya dari minimarket, supermarket, hingga hipermarket, sering disebut lebih murah daripada produk sejenis dari merek lain. Namun, cara ini tak selalu berhasil. Banyak brand terkenal juga bersaing dengan menawarkan harga yang lebih murah daripada private label, ujar Yarrow.

Karena soal kualitas sebenarnya beda tipis, cara termudah untuk berhemat adalah dengan membandingkan harga.

6. Sampel makanan
Meski Anda tidak lapar, mencicipi sepotong makanan menunjukkan sinyal bahwa tubuh Anda siap makan, kata Markman. Penelitian pun menunjukkan bahwa perubahan fisiologis ini membuat Anda kurang teguh menahan keinginan belanja Anda. Tundalah mencoba sampel itu sampai sebelum keluar dari supermarket sehingga dorongan insulin tidak akan memengaruhi tujuan inti Anda, katanya.

Satu cara lain yang juga akan sangat menghemat keuangan Anda, tak perlu mengajak anak saat belanja bulanan. Mereka akan mengambil apa saja yang terlihat lucu dan menggugah selera.

Dipublikasi di Berita | Tinggalkan komentar

Bisnis pasar modern

Bisnis pasar modern sudah cukup lama memasuki industri retail Indonesia dan dengan cepat memperluas
wilayahnya sampai ke pelosok daerah. Keberadaan mereka banyak menimbulkan pendapat pro-kontra. Bagi
sebagian konsumen pasar modern, keberadaan hypermarket, supermarket dan mini market, memang
memberikan alternatif belanja yang menarik. Selain menawarkan kenyamanan dan kualitas produk, harga yang
mereka pasang juga cukup bersaing bahkan lebih murah dibanding pasar tradisional. Sebaliknya, keadaan
semacam ini jelas membuat risau para retailer kecil. Banyak dari retailer kecil mendapat imbas dari kehadiran
pasar modern seperti hypermarket dengan turunnya pendapatan mereka secara signifikan.
Kondisi ini semakin terasa, setelah dikeluarkannya Keppres No 96/1998 tentang Bidang Usaha yang Tertutup
dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan Tertentu Bagi Penanaman Modal. Keberadaan Keppres
ini mengundang masuk retailer asing untuk membuka usahanya di Indonesia. Sampai pertengahan tahun ini
(Kapanlagi.com, 2003) jaringan hypermarket multinasional yang masuk ke Indonesia sudah mencapai 15 gerai.
Kehadiran dua peretail hypermarket, yakni Carrefour (Perancis) dan Giant (Malaysia) sudah menguasai 29,2
persen pasar retail Indonesia. Hingga tahun 2002, 2031 gerai pasar modern nasional hanya membukukan omzet
Rp 33 trilliun, sementara hypermarket asing dengan 15 outlet mampu membukukan Rp 10,88 trilliun.
Masalah persaingan merupakan konsekuensi logis yang timbul dengan hadirnya retailer modern.
Permasalahan timbul ketika retailer modern mulai, memasuki wilayah keberadaan retailer tradisional. Ekspansi
agresif untuk pendirian pusat perbelanjaan modern ini sudah mendapat izin dari Pemerintah Daerah yang
bersangkutan dimana proses pemberian izin oleh aparat setempat tidak dilakukan secara transparan dan sering
berbenturan dengan berbagai kepentingan pribadi didalamnya. Beberapa faktor yang perlu dikaji dalam industri
retail tersebut adalah faktor regulasi, faktor efisiensi produk dan economics of scope, faktor lokasi, faktor
perilaku konsumen termasuk pola selera konsumsi masyarakat serta karakteristik dari produk yang dijual.
Usaha kecil dengan modal terbatas layak untuk mendapatkan perhatian dari KPPU mengingat mereka terbukti
tidak rentan terhadap imbasan krisis multidimensional yang melanda Indonesia sejak 1997. Dari sudut pandang
UUBisnis pasar modern sudah cukup lama memasuki industri retail Indonesia dan dengan cepat memperluas
wilayahnya sampai ke pelosok daerah. Keberadaan mereka banyak menimbulkan pendapat pro-kontra. Bagi
sebagian konsumen pasar modern, keberadaan hypermarket, supermarket dan mini market, memang
memberikan alternatif belanja yang menarik. Selain menawarkan kenyamanan dan kualitas produk, harga yang
mereka pasang juga cukup bersaing bahkan lebih murah dibanding pasar tradisional. Sebaliknya, keadaan
semacam ini jelas membuat risau para retailer kecil. Banyak dari retailer kecil mendapat imbas dari kehadiran
pasar modern seperti hypermarket dengan turunnya pendapatan mereka secara signifikan.
Kondisi ini semakin terasa, setelah dikeluarkannya Keppres No 96/1998 tentang Bidang Usaha yang Tertutup
dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan Tertentu Bagi Penanaman Modal. Keberadaan Keppres
ini mengundang masuk retailer asing untuk membuka usahanya di Indonesia. Sampai pertengahan tahun ini
(Kapanlagi.com, 2003) jaringan hypermarket multinasional yang masuk ke Indonesia sudah mencapai 15 gerai.
Kehadiran dua peretail hypermarket, yakni Carrefour (Perancis) dan Giant (Malaysia) sudah menguasai 29,2
persen pasar retail Indonesia. Hingga tahun 2002, 2031 gerai pasar modern nasional hanya membukukan omzet
Rp 33 trilliun, sementara hypermarket asing dengan 15 outlet mampu membukukan Rp 10,88 trilliun.
Masalah persaingan merupakan konsekuensi logis yang timbul dengan hadirnya retailer modern.
Permasalahan timbul ketika retailer modern mulai, memasuki wilayah keberadaan retailer tradisional. Ekspansi
agresif untuk pendirian pusat perbelanjaan modern ini sudah mendapat izin dari Pemerintah Daerah yang
bersangkutan dimana proses pemberian izin oleh aparat setempat tidak dilakukan secara transparan dan sering
berbenturan dengan berbagai kepentingan pribadi didalamnya. Beberapa faktor yang perlu dikaji dalam industri
retail tersebut adalah faktor regulasi, faktor efisiensi produk dan economics of scope, faktor lokasi, faktor
perilaku konsumen termasuk pola selera konsumsi masyarakat serta karakteristik dari produk yang dijual.
Usaha kecil dengan modal terbatas layak untuk mendapatkan perhatian dari KPPU mengingat mereka terbukti
tidak rentan terhadap imbasan krisis multidimensional yang melanda Indonesia sejak 1997. Dari sudut pandang
UU No 5. Tahun 1999 mengenai anti monopoli dan persaingan tidak sehat, kajian sektor retail ini dianggap
penting karena aspek persaingan akan dikaji melalui berbagai sudut pandang dari pasal-pasal dalam undang-
undang tersebut. Potensi pelanggaran pelaku usaha akan dikaji lebih jauh dengan menggunakan kacamata
persaingan usaha.
No 5. Tahun 1999 mengenai anti monopoli dan persaingan tidak sehat, kajian sektor retail ini dianggap
penting karena aspek persaingan akan dikaji melalui berbagai sudut pandang dari pasal-pasal dalam undang-
undang tersebut. Potensi pelanggaran pelaku usaha akan dikaji lebih jauh dengan menggunakan kacamata
persaingan usaha.

Dipublikasi di Berita | Tag , , , , , | Tinggalkan komentar

Perkembangan Toko Retail di Indonesia

Bagaimana perkembangan toko retail di indonesia saat ini seperti melihat kemajuan sebuah peluang usaha yang berhasil dijalankan, menurut banyak penjelasan di media ataupun dikalangan masyarakat toko retail yang sedang berkembang tidak begitu banyak,mungkin bisa dihitung jari seperti misalkankan toko retail Alfamart atau Indomaret,kedua toko retail ini sering dijumpai pada kawasan pemukiman terutama keberadaan toko retail Indomaret.

Indomaret adalah pemilik jaringan toko retail yang terbesar di Indonesia,dengan jaringan sebesar ini Indomaret hampir menguasai penyebaran produk-produk makanan di Indonesia,dibandingkan dengan Alfamart penetrasi dari Indomaret cukup agresif terutama dipulau Jawa ini.

Perkembangan toko Retail di Indonesia saat ini tak lepas dari penetrasi yang dilakukan oleh Indomaret dan pesaing terkuatnya Alfamart,tentunya kedepan persaingan kedua toko ini akan membuat bergairah industri retail Indonesia,yang juga seharusnya menggairahkan penangkap peluang usaha untuk menumbuhkan inspirasi baru baginya.

Dipublikasi di Berita | Tag , , , | Tinggalkan komentar

BISNIS RITEL MAKANAN (GROCERY) SANGAT MENJANJIKAN

Hipermarket mengalami pertumbuhan yang sangat pesat
Pada tahun 2010 industri hipermarket di Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memperkirakan, total belanja ritel modern tahun ini bakal mencapai Rp 100 trilyun. Sebanyak Rp 65 triliun merupakan belanja makanan dan sisanya non-makanan. Dari jumlah belanja makanan ini, hipermarket mengambil porsi 35 persen, minimarket 35 persen dan supermarket 30 persen. Makanan yang merupakan kebutuhan pokok manusia, mengharuskan kita mau tidak mau untuk berbelanja makanan dan minuman setiap harinya. Hal inilah yang menyebabkan mengapa mini market dan hypermarket pertumbuhannya sangat pesat(Kompas.Com).

Pertumbuhan gerai ritel makanan di hypermarket rata rata 30% per tahun dan supermarket 7% per tahun dan convenience store/mini market sekitar 15%. Pada tahun 2003, penjualan sektor ritel modern makanan dikuasai oleh supermarket 60%, hypermarket 20% dan sisanya 20% oleh convenience store/mini market.

Potensi Pengembangan Ritel Makanan (Grosery) di daerah-daerah
Permintaan produk kebutuhan sehari-hari (consumer goods) masih merupakan permintaan utama. Produk bahan makanan (groceries) mendominasi sekitar 67% komposisi penjualan barang perdagangan ritel. Sementara untuk produk non-pangan, penjualan pakaian dan sepatu memberikan kontribusi sebesar 30% barang perdagangan ritel, diikuti penjualan barang-barang elektronik sebesar 12%, dan penjualan produk kesehatan dan kecantikan sebesar 11%. Potensi pengembangan pasar ritel modern di Indonesia masih relatif besar terhadap jumlah populasi penduduk. Jumlah toko ritel modern per satu juta penduduk Indonesia saat ini sekitar 52, lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga lainnya seperti Malaysia 156 toko, Thailand 124 toko, Singapura 281 toko, dan China 74 toko. Jumlah toko ritel modern di Indonesia hanya menempati porsi yang sangat kecil (0,7%) dibandingkan dengan jumlah toko tradisional per satu juta penduduk Indonesia yang mencapai 7.937 toko.

Format minimarket mengalami pertumbuhan tertinggi, baik dilihat dari sisi jumlah gerai toko maupun pangsa perdagangan ritel penjualan produk fast moving consumer goods (FMCG). Jumlah minimarket di Indonesia pada tahun 2008 mencapai 10.607 toko dengan pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 17,3%, tertinggi dibandingkan format ritel modern lainnya, disusul hypermarket dengan pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 16,9%. Sementara itu, pangsa perdagangan ritel minimarket untuk penjualan produk FMCG meningkat cukup signifikan dibandingkan format lainnya, yaitu dari sebesar 5% di tahun 2003 menjadi 16% di tahun 2008.

PT Matahari Putra Prima Tbk (MPP) telah mengambil langkah inisiatif strategis untuk mengkaji dan menganalisa kegiatan bisnisnya secara keseluruhan, terkait dengan rencana perusahaan mengembangkan kompetensi inti dalam bisnis hypermarket-nya. Sebagai pelopor compact hypermarket di Indonesia dengan model bisnis yang telah teruji, akan terus berfokus kepada bisnis ritel makanan, melalui fase ekspansi Hypermart ke semua daerah di Indonesia. Selain itu, streamline semua bisnis non-inti lainnya/bisnis non-hypermarket, guna memastikan bahwa semua sumber daya MPP dioptimalkan 100%, untuk mendorong pertumbuhan bisnis Hypermart. Indonesia merupakan negara berpotensi besar dan memiliki pertumbuhan pasar yang paling menarik secara global diantara negara berkembang lainnya. Negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia dengan segmen kelas menengah yang meningkat, ekonomi yang ditopang oleh basis konsumen yang kuat, daya beli yang terus meningkat dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi tahunan yang kokoh. Sampai saat ini, ekonomi berbasis konsumen yang kuat ini telah mendorong pertumbuhan PDB negara dan diprediksikan akan terus tumbuh rata-rata 5,6% per tahun sampai dengan tahun 2014, sedangkan PDB perkapita diperkirakan akan tumbuh sebesar 11,3% sampai dengan tahun 2014 dan akan melampaui batas US$ 3.000 di tahun 2012.

Pertumbuhan daerah-daerah di Indonesia juga berlangsung pesat akhir-akhir ini, baik dari sektor ekonomi, pariwisata maupun pendidikan. Dimana setiap daerah berkembang dengan potensinya masing-masing. Pertumbuhan pariwisata dan meningkatnya populasi ekspartriat, menyebabkan peningkatan jumlah impor. Riteler besar seperti Carrefour Indonesia, Matahari Putra Prima Tbk, dan Hero Supermarket berhasil meningkatkan penjualan merek, melalui penjualan produk-produk private label, penawaran promosi yang menarik, dan ekspansi ke daerah-daerah dan pasar yang belum jenuh.

Peran Pemerintah dalam Pengelolaan Pasar Tradisional dan Ritel Modern
Keberadaan pasar modern yang meliputi minimarket, supermarket, hingga hipermarket tidak dapat dihindari. Untuk dapat bersaing, pasar tradisional harus diperkuat agar konsumen tidak beralih. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah Ihwan Sudrajat mengemukakan hal tersebut di Kota Semarang, Rabu (24/6). Menurut Beliau, pasar modern memiliki segmen pasar tersendiri sama seperti pasar tradisional, sehingga pilihan sepenuhnya terletak pada konsumen.

Kita tidak dapat membatasi pasar modern, karena pendiriannya pun berdasarkan adanya permintaan pasar. Yang harus dilakukan adalah melindungi pelaku UMKM dan pasar tradisional. Ini adalah tugas dari pemerintah. Aturan untuk keberadaan pasar modern ada dalam Keputusan Presiden Nomor 112 Tahun 2008 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern. Dalam Pasal 5 diatur perihal letak pasar modern segala ukuran, dari hipermarket yang terbesar hingga minimarket yang terkecil. Dalam aturan tersebut disebutkan, hipermarket hanya diperbolehkan berlokasi pada akses jalan utama, supermarket tidak diizinkan berada pada lingkungan perumahan, dan minimarket diperbolehkan berada di akses jalan pada lingkungan permukiman di kota.

Sementara itu, penguatan terhadap pasar tradisional, dilakukan dengan program penataan pasar. Sektor perdagangan mendapatkan alokasi dana stimulus sebesar Rp 335 miliar yang digunakan untuk program revitalisasi dan renovasi pasar tradisional sebesar Rp 215 miliar, dan pergudangan Rp 120 miliar. Menurut data yang diperoleh VIVAnews dari salah satu anggota dewan, sebanyak 123 kabupaten/kota di 11 provinsi rencananya mendapat alokasi stimulus pasar sebesar Rp 215 miliar.

Pemerintah telah menerima sedikitnya 600 proposal dari 300 daerah di seluruh Indonesia untuk program revitalisasi pasar tradisional. Semua proposal yang masuk ke Departemen Keuangan akan dibahas pelaksanaannya.

Sekretaris Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Gunaryo di Kantor Pengawas Persaingan Usaha mengatakan, ada sekitar Rp 235 miliar dana revitalisasi pasar yang disalurkan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Perbantuan dari Pemerintah Daerah. Dari proposal yang masuk ke Departemen Perdagangan, jenis revitalisasi bermacam-macam. “Ada yang rehabilitasi total, pertambahan luasan, atau renovasi saja,” katanya. Dana yang disiapkan untuk revitalisasi pasar tradisional tersebut, menurut Gunaryo mulai Rp 3 miliar atau tergantung daerah dan besaran kasus yang terjadi. “Kini sedang dibahas di Menteri Keuangan,” tutur Gunaryo.

Proposal rehabilitasi pasar tersebut, katanya, harus melalui persetujuan Dinas PU di daerah terkait standar bangunan. Gunaryo menambahkan untuk program revitalisasi pasar tradisional mulai tahun depan, Pemerintah daerah berkomitmen untuk menambah anggaran pembinaan pasar. Dana stimulus revitalisasi pasar tradisional tahun ini dikucurkan melalui Departemen Perdagangan lewat Dana Alokasi Khusus.

Kelemahan pasar tradisional yang harus segera dibenahi :
1. Kurangnya pengelolaan pasar yang baik menyebabkan tutupnya beberapa pasar tradisional.
2. Kurang nyamannya berbelanja di pasar tradisional, terutama masalah kebersihan.
3. Kurangnya modal peritel tradisional untuk bisa mengembangkan usahanya.
4. Harga yang lebih mahal untuk produk tertentu dibanding harga di pasar modern.

Strategi pengelolaan bisnis ritel modern yang kreatif dan inovatif
Para pelaku bisnis ritel, baik modern maupun tradisional, harus lebih meningkatkan promosinya. Menurut data dari Lembaga Riset Nielsen Indonesia, sepanjang semester pertama 2010, konsumen belum terlalu memprioritaskan uang belanja untuk membeli makanan, minuman, dan berbagai kebutuhan harian. Konsumen kelas menengah, justru lebih memilih belanja kendaraan atau elektronik.

Pertumbuhan penjualan ritel nasional sepanjang Januari sampai Mei lalu baru mencapai 9 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2009. Angka tersebut jauh tertinggal dari pertumbuhan sektor lainnya. Pertumbuhan penjualan mobil menduduki angka tertinggi 73,5 persen. Begitu pula sepeda motor sebesar 35,2 persen. Penjualan elektronik rumah tangga juga meningkat 32,35 persen, sedangkan komputer naik 30 persen.

Saat ini tengah terjadi pergeseran perhatian konsumen dalam membelanjakan anggaran bulanannya. Terutama kelas menengah atas, masih memilih belanja big ticket item (mobil, motor, elektronik). Yang secara tidak langsung, mengindikasikan masyarakat kita semakin mapan.

Seiring berkembangnya teknologi, gaya hidup masyarakat juga ikut berubah. Sebelum ada teknologi, saat ada waktu luang konsumen bisa pergi ke warung atau belanja. Begitu ada ponsel dengan segala kecanggihannya, punya waktu luang sedikit langsung online. Rekreasi di dunia maya dirasa lebih mengasikan, daripada pergi ke pasar tradisional atau supermarket dan hypermarket sekalipun.

Sepanjang 2009, total belanja konsumen untuk ritel 56 kategori produk mencapai Rp 99, 653 triliun (tidak termasuk telur, cabai, beras, dan beberapa sembako). Sementara itu, pada Januari sampai Mei 2010, total uang yang sudah terbelanjakan Rp 44,685 triliun.

Nielsen melakukan riset tentang tren belanja masyarakat dengan cara wawancara face to face di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Makassar, dan Medan. Responden adalah pria dan perempuan usia 15-65 tahun. Total 1.781 narasumber memiliki kemampuan belanja lebih dari Rp 1,250 juta per bulan. (gen/c6/kim)

Pengusaha ritel sebaiknya lebih kreatif mengemas tempat berjualan, kemudian mempromosikannya dengan lebih menarik lagi. Berdasar hasil survei yang dilakukan Nielsen, 19,8 persen konsumen mengungkapkan bahwa faktor nonfood (kenyamanan tempat, kemasan, promosi, dll) merupakan alasan mereka untuk datang ke tempat belanja.

Manajemen SDM mempunyai peranan signifikan dalam sebuah bisnis ritel. Mengkoordinasi dan memotivasi karyawan dalam pencapaian target. Sampai pada akhirnya terbentuklah sebuah komitmen kerja, yang bisa menyatukan antarkaryawan, sehingga menghasilkan keuntungan yang kompetitif. Aspek pemilihan lokasi dalam bisnis ritel juga sangat berpengaruh. Pemilihan lokasi yang memungkinkan bisnis ritel untuk tumbuh, mengevaluasi keunggulan dari setiap area perdagangan yang dipilih. Sedangkan sistem keuangan, merupakan perefleksian strategi ritel menyangkut metode pengelolaan sumber daya (modal, alat-alat, SDM, dan dll) sehingga tercapai kinerja yang optimal.

Demikian, bisnis ritel makanan memang sangat menjanjikan. Dilihat dari pertumbuhannya yang sangat pesat setiap tahunnya. Ditambah, pangsa pasar Indonesia sendiri sudah sangat menjanjikan, negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia dengan segmen kelas menengah yang meningkat, ekonomi yang ditopang oleh basis konsumen yang kuat. Tapi bagaimanapun juga, sukses tidaknya sebuah bisnis, sangat bergantung pada strategi dan menejemen pengelolaan. Semuanya kembali pada pelaku bisnis itu sendiri.

(sumber : berbagai artikel di internet)

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , | Tinggalkan komentar